Tuesday, November 24, 2015

[RE-BLOG] Hari Kelahiran

Ada satu bagian terbaik dari buku teman saya yang super @prawitamutia di bagian kelahiran. Di salah satu adegan episode itu, seseorang memberikan ucapan atas kelahiran seseorang bukan ke seseorang tersebut, melainkan ke ibunya. Sebagai sebuah ucapan selamat karena telah berhasil melahirkan seseorang yang berharga di dunia ini. Seikat bunga diberikan kepada ibunya sebagai tanda ucapan terima kasih itu.

Kelahiran kita bahkan sering lupa kita syukuri dengan mengucapkan terima kasih ke orang tua kita karena telah melahirkan kita dan juga karena kita telah menjadi anaknya dan merekalah yang menjadi orang tua kita. Bukan orang lain, bukan pula kita lahir dari rahim yang lain.

Rasa syukur yang kadang-kadang kalah oleh gegap gempitanya harapan kita pada doa dari orang-orang yang kita harapkan, dari ramainya pesta yang diadakan, atau harapan pada kado-kado dari teman.

Kelahiran kita pun kadang lupa kita kaji ulang apakah kita hanya menambah beban bumi ini atau sebaliknya, kelahiran kita membaikan banyak keadaan. Apakah kita hanya memenuhi bumi dan ikut menjadi buih di lautan atau menjadi berarti.

Kadang kita lupa dan sibuk menyiapkan hal-hal tidak esensial seperti pesta ulang tahun, kejutan, atau hal-hal yang tidak berdampak besar bagi kebaikan kehidupan kita dan orang lain. Rasa syukur itu harus menjadi tindakan dan sebuah perubahan besar pada diri dan laku. Karena usaha kita untuk membuat diri kita berarti dan bermanfaat itu adalah usaha keseharian dan tidak perlu menunggu hari kelahiran untuk berbuat itu semua. 


Makassar, 22 November 2015 | ©kurniawangunadi

Mikir (2)

Eh btw gue sempet baca tulisan kira-kira begini :

Kenapa kita cepat bosan? Apakah kita hidup di era di mana saat ada sesuatu yang rusak maka kita lebih memilih untuk menggantinya daripada memperbaikinya? Apakah ini yang menyebabkan semakin tinggi angka perceraian?

Wehh, ngeri yaa.. Gue jadi instropeksi diri sendiri juga sih.

Lalu?

Yaudah, hahahaa..

Belajar berkomitmen, belajar bertanggung jawab, belajar serius, belajar mengerti gak cuma mau dimengerti, belajar menghargai, belajar tulus, belajar ikhlas, belajar bersyukur, wah ternyata masih banyak peer-nya. Ini pun baru sebagian, ckck

Udahan ah nyampah di sini nya, kapan-kapan nyampah lagi..
Nih efek usia nambah jadi banyak mikir. Dibilang galau ya galau, dibilang mikir dewasa ya iya juga. Pokoknya jangan cuma dipikir, tapi real actionnya juga harus !!!
Demi masa depan lebih baik, hidup bahagia indah gemilang
dan demi ibu pertiwi (?)
ivanjaya.net


Cups Cum--

Mikir (1)

Ngomong-ngomong soal kedewasaan, gatau kenapa gue masih sebocah ini di usia yang gak lagi belia, tsaahh..

Lo bisa curhat apapun ke gue. Gue bisa bikin lo nyaman. Gue bisa pastikan rahasia lo aman. Gue bisa bijak ngasih advice ini dan itu. Gue bisa lo ajak ngobrol dengan situasi serius, gak becanda melulu. Gue bisa menasehati kayak mamah dedeh. Gue bisa berkalimat mutiara kayak pak mario teguh. Gue bisa tampak sangat wise dan dewasa.

Tapi bisa tiba2 lo liat gue cengeng, manja, kekanakan, iseng, becanda mulu, gak serius. Bisa di set sesuai keperluan kalo kata temen gue, disesuaikan dengan situasi dan kondisi, haha

Tapi sisi aslinya ya yang kekanakan itu, hiksss..

Kadang mikir aja sih, kenapa belom dikasih amanah besar macem berumah tangga mungkin karena Dia Maha Tahu bahwa gue yang terlihat siap sebenernya blom siap.

Tiga peran, sebagai seorang hamba, sebagai anak dan sebagai mahasiswa aja gue udah kewalahan bagi waktu gue antara keluarga, teman2, main, hobi, kuliah, tugas bejibun, ngijah. Itu pun Dia gue kasih waktu “sisa” #istighfar

Apalagi kalo gue sambil kerja, sambil berkeluarga. Yekan?

Jadi daripada sibuk bertanya tentang rahasiaNya. Bakal gimana besok, abis lulus jadi apa, kapan mau nikah? Mending fokus beri yang terbaik saat ini. Yang bisa dilakuin sekarang, lakuin dengan optimal. Jangan setengah-setengah. Belajar yang bener, toh waktu gue lebih banyak dibanding temen2 yang kuliah sambil kerja.

Study hard, play hard, pray hard. Iya, harus balance. Tapi tetep harus ada skala prioritas.

Udah sih cuma lagi mikir aja, merenung aja, tapi sambil diketik, hahahaha


Cups Cum--

My Day

24 November 1989
Yes, today i’m turning 26 yo
Why not?

Ceritanya tahun ini tahun pertama belajar untuk mengabaikan hari kelahiran. Bukan karena lupa, bukan acting pura2 lupa trus dapet kejutan, bukan denial karena gamau makin tua. Tapi emang mau belajar gak ikut rayain hal-hal semacam itu. Sekeluarga lagi belajar, baru mulai belajar. Jadi kocak.

Tadi pagi pas sarapan, mamidut bilang ciee ada yang ulang taun. Trus bontot nyanyi2. Kelepasan gitu karena udah kebiasaan. Tapi akhirnya kita saling hussshh, sssttt, kan katanya deal no celebrate walo cuma ucapan.

Trus abis itu beberapa temen nge-japri ngucapin selamat dan kasih doa2. Terus balesin aamiin aamiin aja. Tapiii, paling gak terbendung itu grup. Kalo di grup kan ya pada copas2 aja ya, hahaha.. Akhirnya mau gamau balesin bilang makasi dan aamiin.

Sebenernya gue tau ya, mereka gak paham dan niatnya baik banget pasti tulus walopun yang sekedar copas2, hahaha. Jadi mau gue cuekin juga gak tega. Yaudahlah akhirnya bales juga, hafft gagal mengabaikan hari ini..

Dan gue punya bulek yang ultahnya samaan, dia jago masak pula. Jadi walaupun di rumah gak ada perayaan, dia selalu bikinin kue ulang tahun dan tumpeng buat kita berdua. Bulek sih baru mualaf, tapi tetep aja belom paham..

Walaupun gagal melaksanakan niat 100%, seenggaknya udah mencoba lah yah.. Mau ngejelasin bahwa gue gak ngerayain juga kalo ke temen deket sih bisa, tapi kalo yang heterogen ya rada susah. Takut menyinggung juga.

Terimakasih ya Allah untuk 26 tahun hidup di dunia. Maaf belum jadi manusia yang bermanfaat. Semoga sisa usia semakin barokah. Semoga muka tetep awet muda, tapi sikap makin dewasa, hehe.. Gapapa tua di umur asal gak tua di muka, asal semangat tetep anak muda, asal jiwa selalu muda, hahahaaaa..
*kayak becanda tapi serius* aamiin
ivanjaya.net


Cups Cum--

Wednesday, November 18, 2015

[RE-BLOG] Negosiasi

Perbedaan zaman antara anak dan orang tua membuat banyak anak harus banyak belajar tentang negosiasi, termasuk cara-caranya. Beruntunglah bagi anak yang memiliki orang tua yang terbuka dan selaras, negosiasi lebih mudah dilakukan. Tapi, banyak yang tidak demikian.

Pemahaman dan pandangan hidup antara anak dan orang tua berbeda. Bisa tentang pekerjaan, tentang jurusan kuliah, tentang pasangan hidup, dan masih banyak lagi. Banyak perbedaan.

Kita dituntut untuk luwes, bagaimana mengkomunikasikan hal-hal yang sebenarnya baik, tapi tidak benar dimata orang tua. Mungkin, disebabkan oleh pengalaman hidup di masa mudanya dahulu, atau tentang ketakutan pada ketidaknyamanan hidup anak-anaknya nanti. Karena, pada dasarnya orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya, kan?

Sayangnya, versi terbaik menurut orang tua terbatas pada apa yang dia tahu dan pernah alami. Karena zaman telah berganti, anak-anaknya memiliki pergaulan dan kehidupan yang berbeda, tidak bisa dihindarkan bahwa anak dan orang tua sering berbeda pandangan.

Kita mudah untuk menuliskan segala hal ideal yang menjadi keinginan atau harapan kita. Tapi, ketika kembali ke dalam keluarga, bagaimana cara kita menjembatani antara pemahaman kita dan keluarga adalah sebuah pekerjaan besar. 

Kita tidak harus mengorbankan salah satu karena saya percaya selalu ada jalan tengahnya, tapi pesan saya hanya satu. Perjuangkan dan raihlah ridho orang tua.

Yogyakarta, 10 November 2015 | ©kurniawangunadi
*Re-Blog dengan beberapa editan

My November

Well, hello November..
ivanjaya.net

I know it’s too late to say hello ya. Udah lebih dari pertengahan bulan juga, hahaha. Akhir-akhir ini sibuk banget ama tugas-tugas yang padet. Iya, gue tau sebenernya itu bukan alasan. Dari kemarin mau ngeblog cuma ya gitu kayak udah capek aja gitu. Sekarang juga masih banyak tugas. Tapi lagi jenuh ama itu, bosen. Makanya main-main ke blog, hehehee..

November. Ada hari kelahiran gue di bulan ini. Beberapa orang mungkin menganggap hari kelahiran adalah sebuah hari yang spesial. Tapi engga buat gue. Gue justru selalu punya ketakutan menghadapi hari kelahiran. Makin tua. Hidup makin rumit. Ujian makin kompleks. Muncul keriput-keriput halus. Makin dekat dengan kematian (?)

Kebetulan juga dari kecil gak dibiasain untuk ngerayain ulang tahun. Ucapan selamat dan doa2 aja. Justru yang biasanya ngerayain ya temen-temen disekitar. Tapi kalo keluarga ada yang ulang tahun biasanya gue suka kasih hadiah atau birthday cake.

Tapi setahun terakhir gue dan keluarga mulai belajar untuk gak merayakan moment ulang tahun bahkan sekedar ucapan selamat. Doa-doa pun selalu dipanjatkan setiap saat, gak cuma karena moment ulang tahun yang berarti sekali setahun. Kalo temen-temen terdekat sih gue masih suka ngucapin, atas dasar “gaenak, takut salah paham” harusnya sih gak usah sama sekali.

Kenapa gak ngerayain ulang tahun?
Kan bentuk rasa syukur untuk hidup yang udah dikasih olehNya.

Kenapa ya? Hehe, ya karena bukan budaya umat Muslim. Itu budaya non Muslim yang bakalan panjang kalo gue jelasin, hehe searching sendiri aja ya kalo penasaran ama sejarah budaya perayaan ulang tahun, huwahahaha males ngetiknya guee..

Bersyukur itu setiap hari. Muhasabah,instropeksi diri itu setiap saat. Berbagi kebahagiaan dengan keluarga dan teman-teman bisa kapan saja. Gue suka traktir walopun gue lagi gak ulang tahun. Gue suka beliin keluarga ataupun temen gue hadiah walopun dia lagi gak ulang tahun. Jadi bagi gue ulang tahun ya biasa aja. Cenderung parno malah, hehee..


Cups Cum--

Saturday, October 17, 2015

[RE-BLOG] Tulisan : Dengan Siapa

Obrolan dengan teman baik saya beberapa waktu yang lalu sangat berkesan. Karena kami adalah orang-orang yang tidak sepakat dengan konsep pacaran. Lalu kami berpikir kedepan, bagaimana kiranya kami akan merasa cocok dengan seseorang. Sebuah alasan yang seringkali digunakan oleh orang yang pacaran tentang mengenal (menjajaki dengan pacaran) pasangan terlebih dahulu biar gak salah pilih. Kami tidak sepakat dengan alasan itu dengan alasan yang tidak perlu kami utarakan di sini (nanti kepanjangan). Bagi kami, dengan keyakinan kami, ada satu hal yang kadang membuat kami cemas, kadang pula membuat kami senyum-senyum sendiri.

Kira-kira, dengan siapa kami akan bertemu? Dengan siapa kami akan dipasangkan.

Saya kira, setiap orang yang memilih pilihan untuk tidak pacaran pun memiliki rasa penasaran, rasa cemas, rasa bahagia, dan berbagai rasa lain yang terjadi dalam satu waktu. Entah itu tentang siapa dia, tentang bagaimana cara bertemu, tentang mengapa dia, tentang kapan itu terjadi, dll.

Dalam pembicaraan kami, setidaknya ada dua hal yang bagi kami itu cukup. Dengan siapa? Dengan salah satu dari dua hal ini, atau syukur-syukur dua hal ini menjadi satu sekaligus. Jika ditanya, kiranya kamu ingin menikah dengan siapa. Inilah dua hal yang (menurut kami) penting yang akan menjadi landasan kami. Karena cinta dalam keyakinan kami baru benar-benar akan tumbuh jika sudah berada dalam ikatan, menjalani hidup bersama-sama setiap hari, mengenal karakter seseorang secara utuh dari bangun tidur hingga tidur lagi, bahkan saat tidur.

• Pertama, saya akan menikah dengan orang yang saya “cintai” dan “mencintai” saya (agak drama, tapi ini serius)

Cinta dalam hal ini adalah rasa kecenderungan kepada seseorang. Dalam hidup ini, seringkali kita semua termasuk saya, tertarik kepada seseorang. Dalam fase itu, kadang kita bisa melihat bahwa seseorang itu suamiable/istriable. Tapi, apakah dia juga memiliki persepsi yang sama terhadap kita. Seseorang yang saling mencintai tentu akan sangat membahagiakan ketika menikah. Kita menyukai seseorang dan dia ternyata juga menyukai kita, bukankah sebuah hal yang indah. Di dalam keyakinan kami yang tidak berpacaran, alangkah bahagianya ketika kami menyukai seseorang  dan ternyata itu berbalas. Menyukai seorang yang soleh/solehah, dan ternyata dia juga menyukai  balik.

•  Kedua, saya akan menikah dengan orang yang membuat saya “tenang”.

Jika yang dimaksud cinta itu tidak kunjung dirasakan. Jika dia menjadi semakin absurd dan membuat kita bingung. Maka, kami berpendapat, cukup dengan seseorang yang mampu membuatmu merasa tenang. Ketika datang seorang laki-laki kepada perempuan, lalu perempuan merasa tenang. Mungkin itu sudah cukup untuk menerimanya. Ketika laki-laki bertemu dengan seorang perempuan, dan kepada perempuan itu dia merasa tenang, itu juga mungkin sudah cukup. Cinta bisa ditumbuhkan setelah pernikahan. Merasa tenang itu penting bagi kami, kami tidak akan memilih menikah dengan orang yang membuat kami gelisah, bingung, marah, dsb. Jika diawal sudah seperti itu, bagaimana kedepannya.

Jika datang orang yang bisa membuat kita tenang, mungkin itu cukup untuk menjadi alasan menerimanya. Setiap orang mendambakan ketenangan, ketenangan itu jauh lebih mendamaikan daripada rasa nyaman. Ketenangan meliputi batin dan tubuh.  Bahkan hilang rasa khawatir, apakah dengannya ini kita akan tidak bahagia, miskin, dsb. Semua kekhawatiran itu tidak ada karena kita merasa begitu tenang dengan orang ini. Sekalipun tidak ada rasa cinta pada awalnya.

Dua hal ini, mana yang datang lebih dulu. Itu yang akan kami terima. Ditengah umur yang terus menerus bertambah, daripada bikin dosa kebanyakan. Ditengah kebingungan tentang menerka-nerka masa depan. Kami merumuskan hal ini untuk mencari tahu apa yang sebenarnya kami ingin tahu dan kami butuhkan.

Ternyata dua hal ini cukup. Bukan soal ketampanan atau kecantikan, bukan pula soal anak siapa dan berapa hartanya. Apalagi sekedar nama almamater dan profesi. Jika saat ini kita menyukai seseorang dan ternyata dia tidak. Ya cinta memang tidak bisa dipaksakan, karena hati itu bukan dalam kuasa manusia. Mungkin sudah waktunya bagi kita merenung, apakah dia yang benar-benar kita butuhkan. Jika kita membutuhkannya, apakah dia juga membutuhkan kita. Perasaan ini bahkan membuatmu tidak tenang bukan?

Selamat mencari, semoga bertemu. Tidak hanya bertemu, tapi juga disatukan.

Ditulis pada 6 November 2013
©kurniawangunadi

[RE-BLOG] Seseorang yang Nanti Datang

©Medan, 8 September 2015
https://soundcloud.com/suaracerita/seseorang-yang-nanti-datang

Seseorang Yang Nanti Datang,

Kalau kamu sudah bangun dan membaca tulisan ini. Ada satu hal menarik di dunia ini yang mungkin perlu kamu ketahui. Bahwa mungkin seseorang yang datang ke dalam hidupmu nanti bukanlah orang yang baik. Baik dalam arti yang sebenarnya. Ada bagian-bagian yang tidak terpisahkan dari dirinya yang telah menjadi masa lalu. Pun setiap orang merasa ingin mengubur masa lalunya. Ia ingin berbagi denganmu. Mengawali sesuatu dengan kejujuran, bukan kebohongan.

Mungkin ia baru saja beranjak setelah sekian tahun bergelut dengan dirinya sendiri. Bertanya ke sana kemari hanya untuk mengetahui apakah Tuhan itu masih mungkin mengampuninya atau tidak. Dan rasa khawatir atas pengampunan itu senantiasa menyertai langkah kakinya. Hidupnya kini sangat hati-hati.

Ia mungkin bukan orang baik. Tidak sebaik sebagaimana pengetahuanmu tentangnya selama ini. Ia akan datang menjadi ujian bagimu. Ia tidak berharap diterima, tapi ia senantiasa mengusahakanmu. Ia bahkan sudah bersyukur karena mengenalmu membuatnya berusaha menjadi lebih baik. Ia sudah ikhlas dengan keputusanmu bahkan sebelum dia mengutarakan keinginannya.

Andai kamu berada di posisi hidupnya. Bagaimana perasaanmu?
©kurniawangunadi

[RE-BLOG] Pemahaman Baik

Sepanjang jalan ini, aku menemukan bagitu banyak hal yang kemudian menjadi cara pandang, menjadi semacam keyakinan yang melandasi pikiran. Hal-hal baik yang kupercayai bahwa itu selalu bekerja dengan cara-cara yang tidak aku mengerti, sangat rapi, hebat, dan menakjubkan. Aku mencatat dalam buku saku yang selalu aku bawa dalam perjalanan, aku merincinya;

1. Everything shall pass.

Segala hal yang sedang kita hadapi, jalani, rasakan, pasti akan terlewati. Kegelisahan dan kekhawatiran ini akan terlewati, masa sendiri ini akan terlewati, ketakutan ini akan terlewati. Karena jawaban akan ada bila ada pertanyaan, maka jawaban atas segala perasaan yang kita rasakan, hal-hal yang kita alami pun akan kita dapatkan di masa depan. Bukan saat ini juga dan hari yang meresahkan ini pasti terlewati. Seperti dulu kita takut menghadai Ujian Nasional saat SMA, UN itu pasti terjadi dan akan terlewati. Buktinya, kita sudah melewati itu beberapa tahun ke belakang kan?

2. Bila kita menutup satu pintu, maka Allah akan membukakan pintu yang lain.

Tidak pernah khawatir pada rezeki yang katanya diambil orang bila tidak kita ambil. Rezeki manusia itu sudah ada ketetapannya, tidak akan pernah diambil oleh siapapun. Kesempatan baik yang hadir pun tidak serta merta harus kita ambil, kadang justru ujian terberat bukanlah musibah, tapi kenikmatan. Rezeki adalah kenikmatan. Jangan pernah khawatir sepanjang kita berjuang dengan sungguh-sungguh, karena Allah menjanjikan akan mengubah hidup kita bila kita bergerak untuk mengubahnya. Bila kita menutup satu pintu, insyaAllah pintu-pintu lain akan terbuka dan justru membuat kita semakin percaya bahwa Allah menyiapkan begitu banyak pintu untuk kita. 

3. Tinggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.

Jangan pernah takut meninggalkan sesuatu yang dirasa membuat kita resah, semakin jauh dari kebaikan, membuat kita ragu, ketidak pastian, dan lain sebagainya. Kadang kita menggenggam terlalu erat sesuatu yang tidak tentu, harapan yang tidak ada kepastian, kesempatan yang tidak dibarengi dengan kesiapan. Yang ada justru kita khawatir, penuh dugaan dan prasangka, asumsi, dan membuat kita justru kehilangan waktu terbaik saat ini hanya demi memikirkan sesuatu yang tidak layak ditunggu dan diperjuangkan. Hari ini tidak akan pernah terulang, hati-hati melewatinya hanya dengan dugaan akan masa depan. 

4. Hasil tidak pernah mengkhianati proses.

Begitu banyak orang menyerah ditengah jalan saat memperjuangkan sesuatu. Kadang, bahkan seringnya jawaban atas perjuangan bukanlah pada apa yang kita perjuangkan. Karena urusan hasil itu bukan ada pada kita, tapi Tuhan yang menciptakan. Karena yang terbaik dalam takaran-Nya akan diberikan kepada kita sebaik perjuangan yang kita lakukan. Teruslah berjuang untuk sesuatu yang layak, karena perjuanganmu sama sekali tidak akan pernah dikhianati. Sekalipun kamu tidak mendapatkan apa yang kamu perjuangkan, kamu akan mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga dari itu. 

5. Teruslah berbuat baik tanpa tapi.

Kita tidak akan pernah tahu kebaikan mana yang diterima oleh-Nya dan menjadi pahala. Jangan-jangan ada yang hangus hanya karena kita terpantik kesombongan pada kebaikan itu atau mungkin karena ketidak ikhlasan kita. Untuk itu, teruslah berbuat baik tanpa tapi. Karena sungguh, kebaikan-kebaikan yang terkumpul itu laksana buah yang terkumpul dalam keranjang. Ketika diangkat, maka tidak peduli ada yang busuk atau baik, semua akan diambil, bayangkan kalau kebaikan itu hanya sedikit-sedikit. 

Aku kembali meneruskan perjalanan, berusaha mencari pemahaman itu dari serpihan debu dan hembusan angin. 

Yogyakarta, 2 Oktober 2015 | ©kurniawangunadi

[RE-BLOG] Cerpen : Pertemuan Jalan

Sudah lama ia menunggu hari ini, menunggu pertemuan. Meski pertemuan tidak pernah sanggup memastikan sebuah kebersamaan. Nyatanya, pertemuan mengobati rasa penasaran tentang kepastian. Ada banyak kepastian yang hanya bisa ditemukan dalam pertemuan, kan?

“Kamu tidak berubah?” ujarnya.
“Tidak ada yang berubah, kecuali waktu.” ujarku.
“Mengapa datang lagi?” tanyaku lebih lanjut.
“Karena tidak ada yang berubah,” jawabmu sambil tersenyum.

Kami berjalan menyusuri jalanan kota mejelang musim berganti. Daun-daun pepohonan berguguran, seperti waktu-waktu yang ternyata sudah begitu banyak terlewati. Angin menghembuskan ketenangan, melewat sela-sela jari dan pakaian yang aku kenakan. Dan kamu, kamu seperti biasa berjalan sambil sesekali memejamkan mata, melihat ke arah langit dengan mata terpejam dan menghirup nafas dalam-dalam. Tidak ada yang berubah.

“Mengapa tidak berubah?” tanyaku.
“Aku tidak punya sebab untuk mengubahnya. Kamu, mengapa masih di sini? Apa aku boleh terlalu percaya diri bahwa kamu menungguku?” aku melihatmu mengatakan kalimat itu tanpa beban. Aku tertawa.
“Aku tidak tahu, sepanjang waktu aku memahami bahwa manusia pasti berubah. Tapi aku percaya padamu bahwa perasaanmu ke seseorang itu tidak mudah berubah.” ujarku.
“Dan seseorang itu kamu.” katamu sambil berjalan.

Aku tersenyum mendengarnya. Ku kira menunggu adalah pekerjaan yang melelahkan untuk hal-hal seperti ini. Tapi menunggu untuk seseorang yang akan tetap datang tidak peduli aku masih di sini atau tidak, menjadi keyakinan tersendiri untukku.

“Kamu layak ditunggu.” ujarku.
“Dan kamu sangat layak diperjuangkan, terima kasih sudah percaya,” ujarnya.

Angin mengalir menghapus jejak kami. Kami tidak pernah menjalin hubungan khusus selain berteman. Dan benar kata seseorang bahwa tidak ada pertemanan yang murni antara laki-laki dan perempuan, salah satu atau mungkin keduanya akan tercipta perasaan. Bertahun lalu kami memutuskan untuk melepaskan hal ini dengan cara pergi ke jalan masing-masing. Hari ini, jalan itu kembali bertemu di simpang yang sama.
Yogyakarta, 14 Oktober 2015 | ©kurniawangunadi